
Rendahnya penghasilan petani di desa-desa, menunjukkan bahwa sektor pertanian belum digarap secara optimal. Faktor utamanya adalah belum siapnya mental dan kapasitas petani NU untuk bersaing dengan arus deras bisnis global yang kini merambah hingga ke pelosok desa. Untuk itu, diperlukan langkah serius untuk mengupayakan kemandirian petani NU di tingkat local dengan melakukan pendampingan produksi, permodalan dan pembentukan pasar.
Demikian kesimpulan Diskusi Pemetaan Potensi Agribisnis dalam rangka Program Pendampingan Kemandirian Petani NU yang dilaksanakan oleh PCNU Kabupaten Pasuruan di Workshop Sentra Produksi Agribisnis Terpadu (SPAT) Purwodadi, pada Sabtu, 20 Juni kemarin. Pertemuan tersebut diikuti oleh 30 peserta, terdiri dari Pengurus Cabang, Lembaga Perekonomian dan Pengembangan Pertanian serta utusan 19 MWC NU.
Hasil pemetaan menunjukkan, di wilayah 19 MWC ditemukan beberapa produk agribisnis yang bila diolah dan dikemas akan menjadi tambang emas bagi peningkatan penghasilan petani NU. Produk olahan dan kemasan tersebut akan laku keras di pasaran apabila dilakukan pembinaan pengolahan pasca panen dan mengemasnya secara menarik dengan brand (merk) yang sesuai selera pasar.